![]() |
| sumber: Google |
Komnas Anti Kekerasan terhadap Perempuan telah menlai menilai eksekusi mati yang menimpa TKW asal Majalengka, Jawa Barat, Tuti Tursilawati,di Arab Saudi merupakan akumulasi dari persoalan kekerasan berbasis gender.
Komnas Perempuan yang sejak 2016 memantau tentang dampak hukuman mati pada pekerja migran dan keluarganya, termasuk bertemu dengan keluarga Tuti menemukan fakta kalau dampak dakwaan Tuti membuat keluarganya di Majalengka carut marut.
Komisioner Komnas Perempuan Taufiq Zulbahri menyebut Tuti
berangkat menjadi buruh migran untuk menopang ekonomi keluarganya setelah
menjadi korban dari kekerasan dalam rumah tangga.
Naasnya, berdasarkan penuturan keluarga Tuti kepada
Komnas HAM, setelah bekerja di sana pun dia mendapat perlakuan tidak
menyenangkan dari majikannya.
"Tuti mengalami pelecehan seksual oleh majikan, dan
ekspresi kekerasannya merupakan akumulasi kemarahan maupun pertahanan yang
dapat dia lakukan," kata Taufiq sebagaimana laporan Antara.
Dakwaan eksekusi mati yang telah diterima Tuti sejak 2010
pun tak hanya berdampak pada dirinya tetapi juga keluarganya di Tanah Air.
Ayah Tuti misalnya menderita sakit jantung, berhenti
bekerja sebagai juru kunci, selalu merasa bersalah dan saling menyalahkan antar
keluarga tentang kenapa Tuti dibolehkan bermigrasi. Ibu Tuti juga mengalami
stigma sosial, isolasi diri hingga pengajian pun hanya dilakukan di dalam
rumah.
"Belum lagi trauma menonton TV, menjadi sasaran
eksploitasi oknum yang berjanji akan menyelamatkannya, takut kepada media
dikarenakan khawatir sikap atau pernyataan keluarga yang ter-ekspos di media
akan menghambat upaya pemaafan," kata dia.
Kronologis
Menurut laporan Serikat Buruh Migran Indonesia tanggal 12
Mei 2010 Tuti Tursilawati ditangkap oleh kepolisian atas tuduhan membunuh ayah
majikannya di Arab Saudi atas nama Suud Mulhaq AI-Utaibi. Tuti Tursilawati
ditangkap sehari setelah peristiwa kejadian pembunuhan yang terjadi pada
tanggal 11 Mei 2010.
Dia telah bekerja selama delapan bulan dengan sisa gaji
tak dibayar enam bulan.
Setelah membunuh, Tuti Tursilawati kemudian kabur ke Kota
Mekkah dengan membawa perhiasan dan uang SR 31,500 milik majikannya. Namun
dalam perjalanan kabur ke Kota Makkah, dia diperkosa oleh sembilan orang pemuda
Arab Saudi dan mereka mengambil semua barang curian tersebut. Sembilan orang
pemuda tersebut ditangkap dan telah dihukum sesuai dengan ketentuan hukum Arab
Saudi.
Sejak ditangkap dan ditahan oleh pihak kepolisian, KJRI
Jeddah melalui satgasnya di Thaif atas nama Said Barawwas telah memberikan
pendampingan dalam proses investigasi awal di Kepolisian dan investigasi
lanjutan di Badan Investigasi. Selama proses investigasi, Tuti Tursilawati mengakui telah membunuh ayah majikan dengan alasan sering mendapatkan pelecehan
seksual.
Sampai akhirnya, dia dieksekusi mati di Kota Thaif pada
Senin (29/10).







0 komentar:
Posting Komentar